Mutiara yang kembali,di tempat yang telah menyepi karena usang.Aku berlalu setelah dia menginjakkan tempat yang semestinya bagi kau yang merasa kaya.Setelah kemiskinan kutebarkan sebagai rasa benci ku ketika aku gagal sebagai raja.Pantai yang dulu sering aku kunjungi melantunkan lagu sepi yang mengendurkan otot-ototku yang tegang.Di hari ombak tak begitu galak menghantam gadis-gadis yang berenang di tepi pantai.Gadis-gadis yang manis di pagi itu dan asin di malam hari.Memukulkan birahi jantungku.Seorang menyudahi pertunjukkan geliat ombak.Aku mengikutinya seperti elang tua ingin menyambar anak ayam yang sudah bego.Tetapi ia bukanlah anak ayam yang kemarin,aku tertinggal karena ia menghilang begitu cepat.Aku kalah karena kelambananku.Aku tinggalkan dia yang seketika menebarkan hura-hara kecil dalam benakku.Aku merasa air laut menebarkan ketuaan dan semua yang nampak binal tiba-tiba menjadi layu.Aku berpikir untuk membunuhmu dengan senjata laras panjang dari ketinggian gedung.Supaya engkau rebah mengenang ikan-ikan yang telah pergi menjauh.Berjalan di pasir pantai yang terasa kenyal seperti kulitmu dulu.Memasuki hutan yang hujat oleh karena kelelahan yang amat sangat.Berapa langkahku yang telah malaikat hitung sebelum aku tersesat di belantara yang sepi.Pohon-pohon besar yang merasa terkutuk,tanah sehalus kulit gadis remaja.Suasana yang begitu sepi dan begitu menyentuh sanubariku,aku mereguk tetes embun terakhir yang telah kalah oleh panasnya Surya membakar Bumi.Aku berbalik karena engkau tak mau menyertaiku disiksa rasa haus dan tulang-tulang yang kan bergetar menahan tubuh yang telah lelah.Masih ada waktu bagimu hutan untuk engkau bercanda,sebelum laknat datang menjadi takdir yang sunyi bagi gurun pasir.
Penulis :
Karta Laksana
Jl.Sunan Kalijaga 36
Rangkasbitung
Indonesia
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment