Beban di kepalaku terasa semakin berat melintasi hari yang terasa semakin gersang.Angin telah mati tak lagi menyanyi,sungai telah mati tak lagi memberi hidup.Sepi di jalan hidupku,terkucil karena terasa kecil.Terbuang karena sang ibu mengalami keangkuhan.Masa depan hanyalah kematian yang sunyi bermula dari kesalahan yang kecil.Terbentuk aku dalam kancah perang yang tersembunyi,terbenam aku dalam benalu-benalu yang menjalar hebat menempur aku dalam tidurku.Keluh-kesah hanyalah lantun puisi yang kadang menakutkan.Merambati otak manusia tanpa sadar sekalipun.Tanah terjatuh oleh para penjudi,yang menjual siapa saja bagi kepentingan semata.Sumpah memenuhi tanah yang tadinya penuh impian,kini hanyalah perebutan para setan.Tapi semua tetap tersembunyi bagiku.Aku hanya melihat dalam bayang suatu akhir yang akan terjadi.Nestapa adalah sungai di musim kemarau,tak lagi menggenangi emosi para gadis yang menantiku dalam buaian lagu-lagu.Sunyimu aku tak tahu betul,geloraku adalah yang telah lewat.Engkau terlambat untuk menyadari apa yang selama ini engkau buang dari keyakinanmu.Jalan ke masa depan hanyalah pesta pora mengakhiri apa yang telah menjadi kekecewaan bersama.Tak sebuah candi pun aku bangun sebagai bukti,hanya padang gurun yang kuharap.Tak ada nama yang tertera pada rumah agar dapat kau baca,sejarah akan melupakan semua yang telah berjasa.
Karta Laksana
Jalan Sunan Kalijaga 36
Rangkasbitung
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment