Sungai Ciujung mengalir membelah kota Rangkasbitung.Airnya berwarna agak kecoklatan.Sudah lama sungai Ciujung mewarnai kehidupan penduduk kota.Sungai menjadi sarana transportasi air untuk membawa bambu-bambu yang telah siap dijual.Bila kita berdiri di salah satu sisi jembatan yang terbentang di atas kali Ciujung maka kita akan melihat pemandangan yang mempesona dengan latar belakang yang cukup indah.Masih banyak penduduk yang tinggal di sekitar pinggiran sungai memanfaatkan kali untuk mandi dan mencuci.Di atas rakit bambu mereka mencuci dan mandi sehari-hari.Mereka telah terbiasa dengan kehidupan pinggiran sungai yang kadang berbahaya di saat banjir datang.Aku kali ini melakukan jalan-jalan dengan berjalan kaki melihat-lihat kehidupan pinggiran sungai.Aku melintasi jembatan yang setia melayani siapa saja untuk menyeberang,tak terkecuali gembel sekalipun.Lalu lintas pagi itu ramai membahanakan suara mesin motor yang terasa agak membosankan.Aku menuruni jalan menuju pemukiman di sekitar bawah jembatan.Melalui jalan berlika-liku aku tiba di tepi sungai untuk melihat keindahan pemandangan yang menakjubkan.Aku melihat tulisan 'HM' pada patok yang terbuat dari semen.Aku kemudian melanjutkan lewat deretan kayu-kayu yang siap untuk digunakan.Sambil melepas kebosanan aku lintasi perkampungan penduduk dan akhirnya aku tiba di simpang kecil dekat daerah pekuburan,depan La Tansa Mashiroh dan menggunakan angkot merah strip kuning untuk kembali pulang.
Penulis dan pelaku peristiwa :
Karta Laksana
Jalan sunak Kalijaga 36
Rangkasbitung
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment