Monday, July 9, 2007

Akhir kita bercumbu sumur-sumur pada kering

Pada akhirnya pertempuran tak bisa dielakkan oleh seluruh pesilat ternama dari seluruh pelosok negeri untuk membunuh Germo Hitam yang telah kehabisan bensin karena motornya mogok di jalan desa yang telah suram oleh berbagai penyakit,mulai dari penyakit cacingan hingga spilis dan terakhir raja singa yang kesiangan.Penduduk desa yang bloon mau saja ditipu oleh para pelacur murah hatinya dan sok tampangnya untuk membayar sekali oles dengan oli manis buatan Jepang.Pesilat sudah tidak sabaran dengan senjata golok terhunus untuk membunuh Germo Hitam yang sakti mandra tidak berguna kemudian hari,yang telah menghabisi sekian ribu perawan desa yang lugu dan luhur budinya.Pada hari yang telah ditentukan olehYyang Maha Kuasa sebagai hari kebinasaan umat manusia yang telah penuh dengan error dalam program komputer Java menjadi takdir kematian oleh karena tos parareot atawa para ragak.Gagak hitam menari di atas bangkai manusia-manusia yang telah binasa dalam peperangan yang maha dahsyat melawan para penyair dan penyanyi yang bisanya nyeloteh saja seharian.Aku berkirim surat padamu yang telah menjadi belatung di tempat-tempat tersembunyi oleh karena sering bercumbu dengan mayat-mayat.Chelsea kamu kok jadi jelek setelah diobral tante girang alias gigiran Rangkasbitung.Karena waktu terus menggigit kepala yang telah mati demi keinginan bercumbu di atas ranjang pengantin.Mempelai Iblis untuk membangkitkan gairah kebenaran dalam melawan kutu-kutu yang berloncatan kian kemari.Tapi Malang tak dapat ditolak untung mendingan buat gua saja para gadis yang sudah pada garoreng patut mendingan ditebas saja lehernya daripada nyusahin gua.Singkat kata negeri yang penduduknya sudah berpenyakit jiwa tidak harus sembuh melainkan dibawa langsung ke akhirat oleh taruhan pedang Setan.

Sekian moga-moga tidak berjumpa lagi.

Thursday, June 28, 2007

Pengharapan yang terakhir ketika kulihat wajahmu

Elang Hitam sukses menculik dan membunuh seluruh anak negeri bersama dengan si Germo Hitam. Para orang tua hanya memiliki bayangan arwah anak-anak mereka yang gentayangan.Berseru dengan suara-suara yang lucu membunuh kekejaman.Gairah yang menggebu telah hilang.Cinta padam sudah ditelan hutan yang sunyi.Tak ada angin yang memperhatikan lagi lagu-lagumu yang mengalun dari lembah duka nestapa.Oleh karena salah orang tua mengutuk anaknya,duka dan luka yang terpendam memedihkan hari-hari yang telah dinyatakan kalah oleh Tuhan bagi pemimpi tiada bukti.Sinar terang dan bintang yang terang telah suram karena dosa Apel merah di tanah Eden yang terancam punah.Ketika dia cacing bencana itu liwat,seperti langit biru yang manja,kesempatan hidup untuk terakhir kali memuja cinta.Betapa pahit kemudian setelah hari-hari semanis madu memanjakan ruang pikiran.Karena bulan membenci kehadiranmu yang seperti matahari.Hidup kini terkulai ditinggal oleh anak-anak yang dicintai.Terpisah dari dunia yang ramai,memanjakan penantian yang suci untuk membunuh ibu-ibu mereka yang bertahta oleh darah perjanjian.Hingga genap Tuhan menghilangkan kota yang melahirkan mereka ke Bumi.Bukan karena mereka tidak diingat oleh jalan-jalan gelap yang pernah dilalui.Betapa getir pedang menebas rasa cinta yang pahit,demi darah yang dihiba oleh pulau yang meratapi masa lalu.Beratus tahun yang silam ketika hutan-hutan tumbuh subur dan nenek moyang bersuka cita membuka ladang.Tapi semua suka cita itu hilang ketika sebuah candi hilang diantara seribu candi.Menakjubkan hai engkau Loro yang mengoyak semua gua yang tersembunyi dengan keyakinan yang tak pernah dimengerti oleh anak-anak negeri.Bilakah engkau ingin membeli kuda untuk berpacu di padang gurun yang sunyi,mengarungi yang sesungguhnya engkau benci.Setelah musuh-musuh engkau bunuh semua hingga pulau tak berpenghuni.Kemarahan yang anggun dan bukanlah keangkuhan.Hingga rebah di tanah kering berpasir di saat sekratul maut ingin menyergap.Nampaklah sinar yang begitu terang menyilaukan dari seorang perempuan yang telah menyimpan cinta begitu dalam hingga tubuhnya rusak binasa oleh setan-setan yang berpesta pora.Untuk terakhir kali semua itu terjadi sebelum kematian.


Lepaskan penat untuk selanjutnya....

Penulis :
Karta Laksana
Jl.Sunan Kalijaga 36
Rangkasbitung
Banten
Indonesia

Tuesday, June 26, 2007

Kenyataan tak sebegitu besar

Elang hitam membumbung tinggi di atas pegunungan,membentangkan sayapnya,memperlihatkan keperkasaan burung penguasa udara.Sihir dari seorang perempuan yang bersembunyi di suatu tempat pinggiran hutan.Perempuan yang mengandung kekuatan jahat,seperti calon arang legenda lama yang nyebelin,pura-pura tidak butuh orang lain.Menyebarkan kekuatan jahatnya ke seluruh pelosok desa yang kebanyakkan penghuninya anak-anak.Orang tua mereka telah musnah sebagai angkatan yang menyerah kalah karena tidak becus ngawinin anaknya dengan orang kaya.Anak-anak itu kemudian gigih mencari uang untuk membiayai koloninya.Anak-anak yang tumbuh dari hari ke hari menjadi kejam.Menyandera gadis-gadis yang datang untuk melihat keindahan tempat tersebut.Mereka mempekerjakan gadis-gadis yang lebih mirip ibu mereka di ladang-ladang di lereng pegunungan.Si Elang Hitam yang jahat dengan ilmu sihirnya banyak menculik anak-anak yang sok kaya orang udah tua aja lagunya.Elang Hitam adalah perempuan jahanam yang haus darah anak-anak karena gurih rasanya dibandingkan kakek-kakek yang sudah tua,yang persenjataan rudalnya sudah ketinggalan jaman.Tiga orang anak perempuan sedang memperhatikan gerak-gerik Elang Hitam,mereka hanya mampu pada ilmu sihir berubah wujud menjadi anak ayam.Tentu saja ilmu mereka kalah dan berhasil disambar oleh Elang Hitam dan membawa mereka ke suatu tempat yang jauh di belantara lain penguasa untuk dipersembahkan kepada kelompok onar yang suka pas.Kelompok itu baru saja mukulin perempuan sampai bengong di lapangan.

Sudah dulu,tunggu lain waktu.....

Sunday, June 24, 2007

Putri Bunga Teratai

Putri kerajaan yang tersingkir dari kemewahannya dan menepi di pinggiran hutan.Lalu tumbuh sebagai bunga Teratai di kolam berlumpur.Putri bunga teratai,Ratmi,sangat perasa membuang hidupnya dengan menyepi bersama perempuan tua.Setiap hari Ratmi berlatih ilmu silat,Golok Setan.Golok yang dibelinya dari tukang golok yang kehabisan duit,dibeli juga karena harganya murah.Ratmi mempelajari ilmu silat kuno dari ayat-ayat setan dengan jurus ngebawelin masyarakat.Di gubuk tua yang hampir reyot Ratmi tinggal bersama perempuan tua yang sering membuatkannya ramuan bunga teratai yang digodok dengan dengan air hingga mendidih,kemudian airnya diminum.Ratmi makin nampak cantik tapi kelihatannya sering bengong seperti teratai yang mekar.Suatu saat Ratmi merasa sudah cukup ilmunya untuk mencari pengalaman di tengah dunia yang buas sekalipun.Dengan berbekal golok setan Ratmi pergi ke suatu desa yang tengah dilanda kerusuhan oleh intimidasi gerombolan Germo Hitam.Pimpinan Germo Hitam sangat menyukai gadis-gadis muda sebagai obat awet sehari.Penduduk sering didatangi rumahnya dengan bersenjata golok.Banyak penduduk yang tewas oleh sabetan golok terkutuk.Banyak gadis-gadis ABG diboyong dengan suara cekikan mirip orang gila yang baru keluar dari rumah sakit jiwa.Gadis-gadis itu dikumpulkan di suatu ruangan yang cukup besar bersama Ratna ,yang kakeknya tewas oleh Usep bewok.Mereka diikat satu bersatu sebelum dijual kepada Den Lapoz,Kampin seluruh negeri.Den Lapoz selalu membayar mahal gadis-gadis tersebut denang harga mahal.Tak banyak orang tahu tentang apa yang dilakukan oleh Den lapoz,yaitu membunuh satu persatu ABG bau terasi.

Tunggu lagi lanjutannya...

Penulis:
Karta Laksana
Jl.Sunan Kalijaga 36
Rangkasbitung
Banten
Indonesia

Friday, June 22, 2007

Dendam di belantara yang sunyi

Di puncak gunung yang tinggi tinggal kakek tua dengan cucunya.Kakek tua yang ahli dalam ilmu golok mengajarkan ilmu golok tersebut pada cucunya.Cucunya seorang perempuan yang cukup cantik,berambut panjang.Setiap hari mereka berlatih di dalam hutan yang sepi.Pada suatu hari datanglah segerombolan lelaki yang tak dikenal ke tempat mereka berlatih.Mereka membentak kakek tua tersebut dengan perkataan kasar.Bunyinya begini :" hai kakek bodoh sedang ngapain lu !.Kerjaan lu cuma makan minum saja.Beri dong cucunya.." Kakek tua kemudian tersinggung dan balas menjawab "hai kamu pemuda bego tampangaja lu keren tapi otak lu kaya udang aja,mana seenaknya lu ngecap !" Pemuda tersebut lalu mengeluarkan goloknya,dan sambil meludah."Rasain nih jurus elang nyambar anak ayam" Mereka lalu terlibat pertempuran yang seru jurus demi jurus telah mereka perlihatkan hingga akhirnya kakek tua jatuh tersungkur tak bernyawa lagi.Cucu kakek tersebut menjerit histeris melihat kakek kesayangannya rubuh tak bernyawa.Gerombolan pemuda tersebut lalu menculik dengan membopong cucu sang kakek dan berlalu dari hutan yang sepi.Malam jatuh menimpa dengan bulan yang rebah di pelataran desa.Kendati Ratih(nama cucu kakek bloon) meronta tetapi tenaganya yang kecil tidak dapat mengalahkan lelaki kekar yang membopongnya.Mereka masuk ke dalam ruangan yang cukup besar di pinggiran desa.Dengan diterangi lampu sempor,mereka lalu mengikat Ratih.Mereka adalah gerombolan yang suka merampok di berbagai pedesaan.Pemimpin gerombolan tersebut adalah Usep yang tampangnya agak bewok.
Tunggu cerita lanjutannya..........

Penulis:
Karta Laksana
Jl.Sunan Kalijaga 36
Rangkasbitung
Banten
Indonesia

Saturday, June 16, 2007

Mengambang dalam keraguan

Hari Minggu hari libur yang diperuntukkan bagi para pekerja.Apa yang dapat kita lakukan di hari yang khusus berwarna merah.Kepalalu telah habis dari hal-hal yang besar,yang terpikir bagiku adalah mengerjakan hal-hal yang sederhana.Bepergian bagiku telah habis jalan,diam ternyata yang ada hanya dunia tuamu.Percuma aku berkata-kata jika semua itu tak kunikmati hasilnya.Yang ada hanya cacing-cacing yang memakan isi otakku.Karena gaya penampilanku nampak agak tua dan tak begitu tegap,dan perlu perbaikan sejumlah salon.Misteri apalagi yang menarik untuk dipikirkan ? Jika semua yang kau tahu tak lagi dapat menyelamatkan kehidupan.Kemanjaanmu yang analog telah terpatah-patah oleh benda-benda digital.Jam-jammu terkuras untuk menekuni kemajuan yang terkandung dalam benda-benda berteknologi digital.Mengapa engkau lebih menyukai dunia malam tempat keinginanmu berkeliaran ? Malam yang tak begitu lagi kusukai untuk melihat-lihatmu.Berdiri di dalam bayangan gelap suatu tempat oleh karena cahaya yang lemah dari lampu-lampu jalanan.Seberapa banyak racun kau makan sehingga tercipta negeri liliput ? Hingga akhirnya aku kehabisan uang untuk engkau berpesta pora dan menikmati hidup ini.Karena hidup lebih banyak membutuhkan keberanian daripada ketakutan.Selatan yang menjadi sunyi dan Utara yang menjadi gersang.Dan banyak hal yang tak terwujud cepat.Terlalu lama untuk dinanti dan terlalu tua pada akhirnya.Terlalu cepat berlalu dan terlalu banyak saran pada akhirnya.Tak enak mungkin bagi otakmu untuk menghayati keindahan disaat perjuang hidup yang kita tempuh telah kalah.

Penulis :
Karta Laksana
Jl.Sunan Kalijaga 36
(Gang Loro)
No.Telp. 0252-201153
Rangkasbitung
Banten
Indonesia

Thursday, June 14, 2007

Belukar yang hilang

Aku bosan membahas tentang kamu yang tak jauh hanya mengeksplorasi lekuk-lekuk tubuhmu yang sudah biasa dipandang mata.Hari ini pikiranku agak terang,seperti vampire yang takut dengan sinar terang dan lebih suka kegelapan,aku tak punya bahan lain.Pada akhirnya kita akan mati oleh kebosanan.Kapan serdadu hendak angkat senjata ? Membangkitkan gairah kehidupan,seperti bom Atom meledak dan mengguncangkan nyali orang-orang yang lesu.Hari ini aku tak punya hutang,sehingga aku tak perlu memikirkan uang untukmu yang hanya hidup seperti tikus-tikus liar menanti makanan yang tersimpan.Aku memang tak banyak terlibat dalam pesta-poramu,hanya aku kurang pandai bergaul dan kau anggap hanyalah peminta masa lalu yang tak punya permaisuri.Berapa umur matahari untuk anak cucu kita ? Tak lama hanya angka-angka yang membosankan jika engkau ingin pelajari.Bukankah engkau telah bosan bertelanjang memamerkan pesonamu ?.Apa yang kita hadapi hanya masa depan yang tak begitu jelas.


Penulis :
Karta Laksana
Jl.Sunan Kalijaga 36
(Sebelah gang)
Rangkasbitung
Banten
Indonesia

Tuesday, June 12, 2007

Telat ! Kita telah berpisah jauh

Hutan yang nampak rimbun seperti bulu yang menghias lubang yang diburu hampir semua lelaki.Apakah aku telah melintas mundur dalam lintasan waktu yang telah kutempuh.Aku selalu ragu memandangmu turun di suatu jalan yang sunyi jauh dari pusat kota.Disana hutan tanpa jalan setapak begitu tipis untuk membahagiakanmu.Setiap hari jiwa berteriak,memekikkan kejengkelan dan kekecewaan yang membuat jalan darah di kepala seperti penuh dengan cacing yang meronta-ronta.Beberapa tahun waktu yang kuharapkan telah lewat untuk duduk disinggasana kebesaran.Gadis-gadis yang kudambapun telah gugur satu persatu.Dan akupun mengutuk Tuhan yang telah menempatkan hanya lebih tinggi dari binatang purba.Semua impianku tak banyak yang terwujud,bukti keajaiban telah mati.Terkutuklah engkau semua kota besar,biarlah langit menghancurkanmu.Biarlah semua hutan membencikan untuk berubah warna menjadi merah,darah yang merah yang tertumpah sebagai darah perjanjian yang sia-sia.Bulan telah menggerhanai matahari,sisa bicara yang terdengar angin dari buritan kapal.Rohku telah keluar dari gedung gereja yang damai.Membawa roh Iblis untuk mengadu kutuk.Aku tak pernah mengetuk pintu rumahmu untuk segelas anggur yang kulihat Dewi Kwan Im menumpahkannya ditengah laut yang samar.Mesjidmu telah gagal berdiri di tengah laut yang sunyi yang membesarkan hari-hariku hanya dipangkuan beberapa pelacur yang kesanku membuat rasa iri berkecamuk seperti api telah tersulut di dalam darah yang penuh bensin yang membenci mesin-mesin motor yang telah tua.Tuhanku telah mati bagi cinta seorang pezinah yang membunuh cinta yang hanya bertaruh pada angka 1000.Kemudian mesin-mesin bergentayangan memenuhi jalan dengan kebisuan yang tak tersentuh.

Penulis :
Karta Laksana
Jl.Sunan Kalijaga 36
Dekat Gereja Bethel Indonesia
Rangkasbitung
Banten, Indonesia

Saturday, June 9, 2007

Hai pohon-pohon tua yang merintih dikesunyian

Mutiara yang kembali,di tempat yang telah menyepi karena usang.Aku berlalu setelah dia menginjakkan tempat yang semestinya bagi kau yang merasa kaya.Setelah kemiskinan kutebarkan sebagai rasa benci ku ketika aku gagal sebagai raja.Pantai yang dulu sering aku kunjungi melantunkan lagu sepi yang mengendurkan otot-ototku yang tegang.Di hari ombak tak begitu galak menghantam gadis-gadis yang berenang di tepi pantai.Gadis-gadis yang manis di pagi itu dan asin di malam hari.Memukulkan birahi jantungku.Seorang menyudahi pertunjukkan geliat ombak.Aku mengikutinya seperti elang tua ingin menyambar anak ayam yang sudah bego.Tetapi ia bukanlah anak ayam yang kemarin,aku tertinggal karena ia menghilang begitu cepat.Aku kalah karena kelambananku.Aku tinggalkan dia yang seketika menebarkan hura-hara kecil dalam benakku.Aku merasa air laut menebarkan ketuaan dan semua yang nampak binal tiba-tiba menjadi layu.Aku berpikir untuk membunuhmu dengan senjata laras panjang dari ketinggian gedung.Supaya engkau rebah mengenang ikan-ikan yang telah pergi menjauh.Berjalan di pasir pantai yang terasa kenyal seperti kulitmu dulu.Memasuki hutan yang hujat oleh karena kelelahan yang amat sangat.Berapa langkahku yang telah malaikat hitung sebelum aku tersesat di belantara yang sepi.Pohon-pohon besar yang merasa terkutuk,tanah sehalus kulit gadis remaja.Suasana yang begitu sepi dan begitu menyentuh sanubariku,aku mereguk tetes embun terakhir yang telah kalah oleh panasnya Surya membakar Bumi.Aku berbalik karena engkau tak mau menyertaiku disiksa rasa haus dan tulang-tulang yang kan bergetar menahan tubuh yang telah lelah.Masih ada waktu bagimu hutan untuk engkau bercanda,sebelum laknat datang menjadi takdir yang sunyi bagi gurun pasir.


Penulis :
Karta Laksana
Jl.Sunan Kalijaga 36
Rangkasbitung
Indonesia

Thursday, June 7, 2007

Tupai lupa pada kelapa muda

Aku sering menyesali waktu yang terbuang dalam lintasan yang kemudian terasa membosankan.Aku kini hanya menanti hari tua bila engkau menyelematkan.Terkutuk sudah jalan yang ditempuh oleh karena haus di padang tandus.Gurun pasir adalah lamunan sepi pada ujung kegagalan yang sering datang menuakan langkahku.Aku memang sering mengutukmu dengan hentakan yang tiba-tiba memejalkan kepalaku oleh karena birahi yang tertahan di kepala adalah kodrat dan takdir sebagai lelaki.Angin membuat kita bosan dengan rengekkan yang kedengarannya itu-itu saja.Lepaskan belenggu pada jiwaku yang kucuriga engkau sengaja menahannya.Terkutuk kamu kaum perempuan di sela-sela semak engkau bicara seperti ular yang mengintai dan memanggut kemudian mengalirkan racun kenikmatan.Kemudian aku mati beberapa saat lamanya,gundah oleh karena ketidak sabaran.Aku telah mengutuk dunia yang telah memenjarakan aku dalam bait suci ajaran agama.Sedang engkau berpesta pora dengan rasa laparmu akan pertualangan.Serta geliat yang telah menghancurkan Sodom dan Gomorah.Tuhan telah kuusir dari jalan-jalan kota agar engkau menderita tak lagi ditemani.Tapi kamu memang lucu dengan wajah yang hijau engkau kemudian tersenyum lagi menarik simpatiku.padahal aku coba benamkan semua itu dalam perang ketidak mengertian.

Penulis :
Karta Laksana
Jl.Sunan Kalijaga 36
Rangkasbitung
Indonesia

Sunday, May 20, 2007

Jalan-jalan becek yang suram

Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga keturunan Cina(etnis Cina).Saya sering pergi ke Jakarta dengan menggunakan kereta api.Meski lambat saya sudah biasa bersabar diri.Kalaupun sekarang kesabaran saya sudah menipis tapi hal itu hanya perlu penanganan yang seksama.Saya hanya bermaksud mencari pengalaman untuk menulis.Melewati hari-hari yang terasa mulai membosankan.Aku tak banyak kawan di kota kelahiranku.Itu bukan berarti aku menutup pintu pergaulan dengan dunia luar.Aku hanya bermaksud membayangkan diriku cukup penting dalam kehidupan di dunia.Tapi semuanya kadang mengecewakanku,banyak onak melukai hingga aku terkulai lemah.Sebagaimana kebiasaanku menuliskan pengalamanku bila aku berkunjung ke suatu tempat.Inilah yang dapat kutuliskan tentang perjalananku ke suatu tempat yang cukup jauh.Letaknya kira-kira 8 km.Anda dapat membaca pada petanda KM 8 arah Leuwi Damar.Dari petanda tersebut dan tak jauh dari pembatas jembatan kecil,ada jalan yang mendaki menuju perkebunan karet.Hujan turun membasahi daerah tersebut,rumput-rumput belum lagi mengering dan suasana lembab membuat udara yang dihisap terasa berat.Aku melangkah dengan hati-hati melewati beberapa batu cadas.Tiba di suatu tempat yang agak lebih tinggi dari jalan raya.Batang-batang pohon karet yang masih kecil dan heningnya suasana tempat itu lebih tepat menyerupai hutan.Aku coba telusuri jalan setapak dengan rerumputan dan sekitarnya yang masih bala.Aku tadinya tak begitu memikirkan kemungkinan adanya ular-ular.Begitu aku dikuasai oleh bayangan ular-ular yang berbahaya aku lantas mengurungkan berjalan lebih jauh.Aku berbalik dan kembali lagi.Aku merasakan ketakutan kecil menghinggapiku.Tapi itu pun pengalaman yang mendebarkan.Semoga apa yang ku tuangkan dalam tulisan kali ini dapat menjadi pelajaran yang berguna bagi pembaca.

Friday, May 18, 2007

Menuju Dunia yang Sunyi

Saya bernama Karta Laksana lahir di Rangkasbitung 27 Pebuari 1964.Saya memang gagal meraih gelar di IKIP(Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) ,Bandung.Saya kembali ke kota Rangkasbitung hanya karena saya tak mampu memperoleh pekerjaan yang dapat membiayai hidup saya di Bandung.Dan hingga kini saya tinggal di Rangkasbitung bersama orang tua saya.Demikianlah sekilas mengenai penulis.
Pagi itu matahari bersinar terang,cerahkah hari ini ? Saya melesat dengan mobil angkot biru menuju luar kota.Jam belum lagi menunjukkan pukul 9:00 pagi.Aku duduk di bangku depan.Aku tiba di tempat yang tak jauh dari petanda KM 16.Tibanya kekuatan-kekuatan yang menyegarkan pikiranku membuat diriku bertambah yakin.Aku berjalan di atas tanah lapang berumput hijau.Terdapat tiang-tiang gawang,nampaknya seperti sebuah lapangan sepakbola.Aku memandangi kerindangan pohon yang menghiasi perbukitan yang terhampar di hadapanku.Aku melangkah lebih jauh memasuki wilayah yang semakin jauh dari jalan raya Rangkasbitung-Gajruk.Jalan tak beraspal,tanah merah dan nampak bekas jejak ban mobil dan motor yang pernah melintas.Cukup jauh aku berjalan di kesunyian pagi yang begitu mencekam.Tiba di suatu tempat yang begitu menakjubkan.Tempat yang seperti taman Eden dengan belukarnya yang masih nampak asri,seolah belum terjamah tangan dan kaki manusia.Aku selami keberadaanku yang sendiri tak membawa kawan.Suara cicit burung dan suara lainnya yang terasa aneh di telingaku.Bayangan gelap yang nampak seperti hantu-hantu yang menakutkan.Betapa sunyinya pagi itu hampir tak terdengar suara lain selain suara burung-burung yang memecah kesunyian pagi.Semak-semak belukar yang mungil dan begitu tinggi , cahaya matahari yang menghangatkan membawaku kedunia lain yang mencekam.Aku kemudian berbalik lagi menuju jalan raya.Melalui jalan tempat orang-orang gagah menuju pertempuran kehidupan.Aku mampir di sebuah warung untuk membeli minuman.Perempuan berkaos warna pink dengan kerah putih memberi tahu nama desa tersebut 'Mekar Sari'.Aku tak lama setelah itu aku kembali pulang ke Rangkasbitung.

Monday, May 14, 2007

Sajak pagi ini

Geliat tubuhmu
Tarian yang tersisa tadi malam
Menyambut pagi yang disegari
ribuan pemacu
Kabar duka di pintu rumahmu
Tak kau duga
Kematian sahabatmu
adalah kehilangan mimpi yang
merangkulmu.
Coba tenangkan diri
dengan segelas air putih
Matahari belum lagi tinggi
awan gelap telah datang
Menyapu semua gembiramu
Mampukah engkau bertahan
di tengah badai yang sedang
mengintai.

Friday, May 11, 2007

Kehancuran Takdir yang Dimaklumi

Beban di kepalaku terasa semakin berat melintasi hari yang terasa semakin gersang.Angin telah mati tak lagi menyanyi,sungai telah mati tak lagi memberi hidup.Sepi di jalan hidupku,terkucil karena terasa kecil.Terbuang karena sang ibu mengalami keangkuhan.Masa depan hanyalah kematian yang sunyi bermula dari kesalahan yang kecil.Terbentuk aku dalam kancah perang yang tersembunyi,terbenam aku dalam benalu-benalu yang menjalar hebat menempur aku dalam tidurku.Keluh-kesah hanyalah lantun puisi yang kadang menakutkan.Merambati otak manusia tanpa sadar sekalipun.Tanah terjatuh oleh para penjudi,yang menjual siapa saja bagi kepentingan semata.Sumpah memenuhi tanah yang tadinya penuh impian,kini hanyalah perebutan para setan.Tapi semua tetap tersembunyi bagiku.Aku hanya melihat dalam bayang suatu akhir yang akan terjadi.Nestapa adalah sungai di musim kemarau,tak lagi menggenangi emosi para gadis yang menantiku dalam buaian lagu-lagu.Sunyimu aku tak tahu betul,geloraku adalah yang telah lewat.Engkau terlambat untuk menyadari apa yang selama ini engkau buang dari keyakinanmu.Jalan ke masa depan hanyalah pesta pora mengakhiri apa yang telah menjadi kekecewaan bersama.Tak sebuah candi pun aku bangun sebagai bukti,hanya padang gurun yang kuharap.Tak ada nama yang tertera pada rumah agar dapat kau baca,sejarah akan melupakan semua yang telah berjasa.

Karta Laksana
Jalan Sunan Kalijaga 36
Rangkasbitung

Tuesday, May 8, 2007

Irama sendu alun sepanjang jalan

Hari yang dibayangi oleh hantu-hantu yang mengancam dan mengepungku di dalam keadaan semakin tak berdaya. Hari kering terbakar matahari dan anginpun mati untuk cinta yang hilang di dalam kekacauan dan kecemburuan yang begitu menggerus karang terjal sekalipun. Pohon-pohon yang letih memberi keteduhan yang fana.Tanah yang hanya membentangkan jalan kemana engkau ingin.Kesepian dari sejak engkau di besarkan oleh keheningan pedesaan yang sepi.Menjelajah seolah engkau tak merasa letih,tak tengadah karena kepalamu terasa berat.Haus mencapai tengah,lapar mencapai tengah,semangat mengalir ke tengah samudera yang luas.Jalan-jalan kemudian menjadi asing dalam benakmu,membiarkan engkau mencapai nestapa dalam renjana yang begitu inersia.Impian satu demi satu berguguran di dahan yang indah dan banyak bunga yang tumbuh tak tampak kepiluannya.Buah-buah menjadi tua dan kemudian terbuang tanpa kau makan mengobati dahagamu yang sering datang mendadak mencari surga.Langit telah menghukummu,seperti Adam dan Hawa meninggalkan Eden.Malam sepi tak lagi kau jamah,sehingga rindu berubah menjadi dendam yang begitu halus untuk disadari ular.Bencana sudah di hadapanku,tak seperti yang kuduga jauh sebelumnya,ketika aku baru mengenalmu.Semua langkahmu juga yang menjadi pertaruhan petaka di tanah yang sering menggugatmu.Hari-hariku pun akan berlalu,seperti bulan akan berlalu dari malam,seperti burung liar yang kan terbang jauh meninggalkan aku dan kamu.

Friday, May 4, 2007

Mencari kasih dari langit

Kesibukan di kota kecil sekalipun seperti Rangkasbitung tak bisa dielakkan lagi oleh ku.Seperti lumpur yang terbawa arus sungai,kesibukan mudah membuat jenuh dan membuat cepat lelah.Banyak tujuan wisata di sekitar Kab.Lebak.Maka menurutku sebaiknya didirikan Pusat Informasi Tempat-tempat Wisata di Kab.Lebak.Kurangnya pelayanan mengenai informasi yang dibutuhkan sering membuat masyarakat kota tak menyadari banyaknya tempat yang dapat dijadikan tempat rekreasi ringan.Kali ini aku pergi menepi ke tempat yang lebih sepi,lebih sunyi dan lebih tenang.Matahari pagi itu bersinar agak redup tertutup awan tipis.Aku terbiasa menggunakan angkot biru untuk mencapai tempat yang aku inginkan di luar kota.Angkot Sunan Kalijaga-Cipanas datang kemudian aku duduk di depan,di samping supir.Angkot yang kutumpangi hanya sampai di sekitar Puslatpur Ciuyah,Lebak.Aku menunggu angkot biru berikutnya yang menuju Gajruk.Akhirnya aku tiba di tempat yang kutuju.Aku turun dari angkot beberapa meter dari petanda KM 32 ,agak jauh dari pusat kota Gajruk.Tempat aku turun tak jauh dari penggergajian kayu.Tempat itu aku dekati karena aku tertarik untuk melihat jurang di belakang penggergajian tersebut.Jurang yang cukup indah dan sunyi menanti kematian bila engkau tersandung dan jatuh di jalan curam masa depanmu.Aku bergerak ke lain tempat dan berdiri memandangi pegunungan yang berselimut kabut pagi itu.Tempat berada di pinggiran jalan.Nampak gradasi warna putih agak transparan yang indah membentang menutupi pegunungan di hadapanku.Aku kemudian berjalan kaki menuju tempat yang berpagar agak rebah dan terbuka.Dari pintu pagar itu nampak jalan tanah kemerahan menuju ke bawah yang basah oleh hujan.Aku berjalan menginjak rumput-rumput basah.Aku berdiri dekat sebatang pohon yang cukup besar.Di dekatku tergeletak pedati tanpa hewan penghela yang menggunakan ban mobil tidak lagi kayu.Aku melihat-lihat sekelilingku.Aku tertarik pada sawung beratap genteng yang berdiri tak jauh dari tempat aku berdiri.Aku hampiri sawung tersebut ,ternyata itu adalah sawung tempat beristirahat.Aku tak lama berdiam di tempat itu dan kembali ke tempat dekat pintu pagar tadi.Hm ada dahan pohon yang menjulur, sehingga aku dapat duduk di atasnya. Aku duduk memandangi pemandangan yang terhampar di depanku lagi.Datang seorang lelaki yang nampak sudah tua berkaos kerah warna biru ,tengah menggiring 2 ekor lembu piaraannya untuk santap.Aku menyapanya maksudku agar ia memaklumi kedatanganku.Aku bermaksud beranjak keluar dari tanah yang mungkin miliknya dan kemudian kami malah terlibat pembicaraan ringan sebelum aku berada di luar pintu pagar.Di pinggangnya tergantung sebilah golok bersarung .Aku tak begitu khawatir dengan golok itu.Tibalah saatnya aku harus berpisah.Aku melangkah keluar dan menghampiri petanda KM dan duduk di atasnya menunggu angkot yang akan membawaku pulang.

Tuesday, April 24, 2007

Jalan yang terbentang

Sebagai penduduk kota aku telah terbiasa kini dengan degup kesibukan kota.Aku memulai lagi jalan-jalan seputar kota Rangkasbitung.Aku memulai langkahku dari rumahku.Berjalan kaki sepanjang jalan Multatuli yang sibuk dengan berbagai kegiatannya.Jalan dengan 2 lajur yang membentang mulai dari pintu kereta api hingga Alun-alun kota.Kendaraan yang liwat pada jam-jam sibuk cukup menggelegar bunyi mesin motor-motor yang dipacu.Pagi itu cuaca mendung dan angin bertiup cukup kencang.Aku tiba di Alun-alun kota.Disana sedang ada kegiatan.Banyak orang berkumpul,kesanku lebih banyak kaum perempuan yang hadir.Nampak sederetan mainan anak-anak yang disewakan.Beberapa orang duduk-duduk.Aku lanjutkan perjalananku melewati jalan Abdi Negara.Aku menyeberang jalan dan menyeberang lagi.Kemudian aku mampir untuk makan.Usai makan aku lanjutkan dengan melewati BAPPEDA dan membelok ke kiri secara dramatis.Aku tiba di telaga yang dulunya bernama telaga 'Bidadari'.Aku menyeberang jalan tanpa banyak kesulitan.Alangkah indahnya pemandangan telaga yang airnya berwarna kehijauan.Beberapa terlihat orang memancing ikan dengan santai.Aku berjalan mengitari telaga dan banyak mendapati rumput liar tumbuh menggeram.Telaga yang letaknya di depan kantor Kelurahan Rangkasbitung Barat.Aku diam sejenak di tepi telaga dekat orang-orang memancing.Aku lihat jalan kecil menuju ke atas.Aku memutuskan untuk menempuh jalan kecil tersebut.Aku tiba di suatu tempat yang membuatku bingung sejenak.Apakah jalan tersebut buntu ? Aku mendapatkan keterangan dari seorang perempuan yang cukup tua umurnya.Akhirnya aku melewati pintu pagar setelah menaiki tangga berbatu.Aku melewati mesjid(tempat ibadah) dan tiba di suatu jalan entah apa namanya.Yang kulewati adalah Makam Pasir Tariti dan tak jauh dari tempat itu akau melihat pemandangan dengn latar belakang yang begitu indah dari tempat yang cukup tinggi dari jalan umum.Sampai jumpa lain kali.


Penulis dan pelaku jalan-jalan :
Karta Laksana
Jalan Sunan Kalijaga 36
Rangkasbitung

Monday, April 23, 2007

Jalan yang hampa dan sunyi

Sungai Ciujung mengalir membelah kota Rangkasbitung.Airnya berwarna agak kecoklatan.Sudah lama sungai Ciujung mewarnai kehidupan penduduk kota.Sungai menjadi sarana transportasi air untuk membawa bambu-bambu yang telah siap dijual.Bila kita berdiri di salah satu sisi jembatan yang terbentang di atas kali Ciujung maka kita akan melihat pemandangan yang mempesona dengan latar belakang yang cukup indah.Masih banyak penduduk yang tinggal di sekitar pinggiran sungai memanfaatkan kali untuk mandi dan mencuci.Di atas rakit bambu mereka mencuci dan mandi sehari-hari.Mereka telah terbiasa dengan kehidupan pinggiran sungai yang kadang berbahaya di saat banjir datang.Aku kali ini melakukan jalan-jalan dengan berjalan kaki melihat-lihat kehidupan pinggiran sungai.Aku melintasi jembatan yang setia melayani siapa saja untuk menyeberang,tak terkecuali gembel sekalipun.Lalu lintas pagi itu ramai membahanakan suara mesin motor yang terasa agak membosankan.Aku menuruni jalan menuju pemukiman di sekitar bawah jembatan.Melalui jalan berlika-liku aku tiba di tepi sungai untuk melihat keindahan pemandangan yang menakjubkan.Aku melihat tulisan 'HM' pada patok yang terbuat dari semen.Aku kemudian melanjutkan lewat deretan kayu-kayu yang siap untuk digunakan.Sambil melepas kebosanan aku lintasi perkampungan penduduk dan akhirnya aku tiba di simpang kecil dekat daerah pekuburan,depan La Tansa Mashiroh dan menggunakan angkot merah strip kuning untuk kembali pulang.


Penulis dan pelaku peristiwa :
Karta Laksana
Jalan sunak Kalijaga 36
Rangkasbitung

Sunday, April 22, 2007

Perjalanan mencari makna

Kesibukan kota Rangkasbitung dari tahun ke tahun semakin meningkat sejalan dengan perkembangan ekonomi dan pembangunan yang tengah gencar dilakukan.Tak terlepas dari suasana kota aku sebagai penduduk kota dihadapi dengan berbagai persoalan.Aku sudah sering berjalan-jalan di seputar kota.Banyak hal-hal yang menarik tapi semua itu tak lepas dengan kebosanan bila kita tidak cepat menyegarkannya.Untuk itu kita harus menarik diri keluar dari permasalahan yang ruwet di dalam kota dengan bepergian keluar kota.
Aku merasakan kejenuhan.Aku butuh sesuatu yang baru untuk menyegarkan pikiranku.Aku berniat untuk berjalan kaki cukup jauh.Aku turun dari mobil angkot di persimpangan SMP Mardi Yuana dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot jurusan Cirende berwarna biru.Mobil melaju menuju arah Cimarga.Di tengah jalan aku diturunkan oleh supir karena tujuanku ke suatu danau kecil yang cukup jauh.Aku disarankan untuk melanjutkannya dengan menggunakan angkot jurusan Sudamanik.Tak lama datang mobil jurusan yang dimaksud aku naik mobil tersebut.Aku turun di danau kecil yang kumaksud.Aku melihat-lihat sejenak danau kecil tersebut.Pemandangannya cukup indah dan mempesona.Airnya berwarna kecoklatan.Pinggirannya sudah dibangun tembok pembatas.Aku membayangkan sebuah perahu yang dapat kupakai untuk bersenang-senang dan menyeberang ke seberang dengan cafe kecil yang menungguku.Tapi semua itu hanyalah lamunan belaka.Aku mulai berjalan kaki menuju arah kota Rangkasbitung.Mulanya aku tak banyak mengalami kesulitan yang berarti.Setelah beberapa kilo meter aku mulai mengalami rasa perih di kaki,terutama kaki bagian kiri.Aku tetap melangkah dengan penuh semangat.Aku meliwati Balai Benih Ikan,Kalang Anyar sekitar jam 8:35 pagi.Kemudian aku duduk di pinggir jalan dekat pemakaman umum untuk beristirahat.Kakiku terasa perih dan semakin perih.Matahari bersinar terang.Aku berjalan ke arah sungai untuk melihat-lihat sungai.Aku melihat banyak orang menambang pasir di sungai.Aku kemudian melanjutkan dan tak begitu lama aku mampir di warung kecil untuk sekedar minum Fruit Tea satu botol.Perjalananku masih cukup jauh tapi kupaksakan juga untuk mencapainya.Aku memang banyak istirahat dengan duduk di pinggir jalan hal itu semata karena rasa sakit yang kurasakan di bagian kakiku.Aku minum sebotol Coca-Cola untuk menyegarkan tubuhku dan melanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa kilo meter lagi untuk mencapai alun-alun kota Rangkasbitung.Akhirnya aku tiba di alun-alun kota dan berhasil.

Penulis dan pelaku kejadian :
Karta Laksana
Jalan Sunan Kalijaga 36
Rangkasbitung

Monday, April 16, 2007

Peningkatan Mutu Rangkasbitung

Sekarang ini Rangkasbitung tengah membangun pasar yang baru.Aku sudah lama tinggal di Rangkasbitung tapi tak begitu mengenal seluk beluknya.Aku jarang bergaul sehingga aku hampir tak punya teman ngobrol.Lebih dari sepuluh tahun yang lalu aku sering mengunjungi Jakarta dengan menggunakan kereta,yang stasiunnya tak begitu jauh dari tempat tinggalku.Waktu harga karcisnya selain murah juga jadwalnya terasa padat sehingga memudahkan aku bepergian.Banyak titik kemacematan yang terdapat di dalam kota,terutama ruas jalan Sunan Kalijaga dan Tirtayasa.Rangkasbitung selain strategis tempatnya juga mempunyai pemandangan yang cukup indah untuk anda eksplorasi.Saya pernah berkunjung ke Muara Binuangeun di selatan.Sekarang ini banyak warnet menjamur di kota Rangkasbitung.Pengguna dapat dengan mudah mengakses dengan hanya membayar sekitar Rp.5000. Penertiban masih sangat diperlukan dari pihak kepolisian.Banyak masyarakat belum terbiasa dengan disiplin di jalan atau di tempat-tempat umum.Saya memang lulusan SMAN 1 Rangkasbitung yang sekarang SMUN 1.Saya masih sering menjumpai teman-teman lama dan ada juga yang sudah menjadi guru.Saya lebih sering menghabiskan waktu di rumah.Banyak juga yang dapat anda lakukan di Rabienza atau pusat perbelanjaan Rangkasbitung yang terletak tak begitu jauh dari kantor polisi.Alun-alun juga pembenahan agar lebih banyak hala-hal yang atraktif,murah dan meriah.Masih banyak yang ketinggalan bagi pembangunan di Rangkasbitung.Hal itu memang dibutuhkan investasi yang tidak sedikit.Selain menuntut jaminan hukum bagi investor,juga masyarakat harus berpikiran maju.

Friday, April 13, 2007

Hai ! Aku ingat dulu

Jalan yang berada dekat sekolah SMP Mardi Yuana cukup lebar dan ramai oleh kendaraan yang melintas.Aku duduk untuk menikmati ketoprak(nama makanan) di pinggiran jalan tersebut.Letak dagangan ketoprak itu menempel dengan pagar sekolahan.Aku menunggu tak begitu lama untuk sepiring ketoprak.Aku menunggu sambil melihat-lihat sekitar halaman sekolah SMP Mardi Yuana.Aku dulu pernah belajar di sekolah tersebut.Aku ingat pastur dari Belanda yang mengajar mata pelajaran Budi Pekerti.Lapangan volley yang dulu pernah aku bermain dengan teman-temanku kini diam membisu bagiku.Banyak yang masih kuingat kenangan semasa aku bersekolah.Kini sekolah itu sudah berganti generasi.Penataan halamannya sudah lebih rapih.Siswi-siswi yang cukup cantik melintas mengingatkan pada teman-teman sekolah perempuanku dulu.Aku kemudian beranjak setelah selesai menyantap sepiring ketoprak.

- Karta Laksana -

Thursday, April 12, 2007

Kenangan masa kecil

Saya lahir di kota Rangkasbitung tahun 1964.Saya dibesarkan oleh orang tua saya di kota kelahiran saya.Saya di sekolahkan mulai dari Taman Kanak-Kanak Mardi Utomo kemudian SD di tempat yang sama.Setelah lulus dari SD saya meneruskan ke SMP Mardi Yuana.Lulus dari SMP saya melanjutkan ke jenjang SMA.Setelah itu saya meneruskan pendidikan ke Bandung.
SD tempat saya bersekolah dekat dengan sungai Ciujung.Saya sering bermain di sungai dengan kawan-kawan.Permainan kasti amat digemari,saya sering melakukannya bila jadwal pelajaran olah raga.Lain halnya dengan perjalanan hidup saya di Bandung,di Rangkasbitung saya lebih banyak di rumah.Teman bermain saya hanya tetangga dekat rumah.

- Karta Laksana -